Dewasa ini banyak terjadi musibah yang melanda negri ini. Baik itu bencana alam ataupun bencana sosial-ekonomi-hukum yang terasa menyesakkan dada.
Banjir, longsor, gempa bumi, tsunami Allah tunjukkan sebagai peringatan. Kesempitan ekonomi, kekacauan sosial juga ketidak pastian hukum juga kita rasakan.
Dan yang terakhir adalah wabah penyakit virus corona yang membuat semua panik ketakutan.
Kenapa semua ini terjadi? apa sebabnya?
MAKSIAT BERBUAH FASAD(KERUSAKAN)
Mungkin Allah sedang mengingatkan kita.
Krn sesungguhnya semua kerusakan ini adalah akibat ulah manusia. Tapi kadang manusia jika diingatkan, mereka menyanggahnya.
Allah Ta'ala berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah: 11-12)
Membuat kerusakan di muka memiliki dua makna:
Pertama, secara materi seperti menghancurkan rumah, membakar hutan, pembalakan liar, dan semisalnya.
Kedua, membuat kerusakan secara ma'nawi, yaitu dengan berbuat maksiat atau menciptakan kemaksiatan.
Yang kedua ini merupakan sebesar-besar membuat kerusakan di muka bumi. (Lihat Al-Qaul al-Mufid, Syaikh Ibnu al-Utsaimin: 2/101)
Makna yang kedua dikuatkan dengan beberapa ayat:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Al-Ruum: 41)
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syuura: 30)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)
Makna yang kedua telah disebutkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, "Al-Fasad (kerusakan) adalah kekufuran dan berbuat maksiat." Maka makna larangan berbuat kerusakan di muka bumi adalah jangan kufur kepada Allah dan berbuat maksiat.
Abu al-'Aliyah berkata dalam menafsirkan firman Allah ta'ala: "Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi", yakni: janganlah kalian bermaksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka buat tersebut adalah bermaksiat kepada Allah; karena siapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan berbuat maksiat, maka sungguh ia telah membuat kerusakan di muka bumi; karena baiknya bumi dan langit itu dengan ketaatan." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
BERHUKUM PADA ATURAN SELAIN ATURAN ALLAH SWT ADALAH BENTUK MAKSIAT
Hari ini diakui atau tidak, kita berlepas dari ketaatan pada aturan yang Allah swt turunkan.
Bahkan ada pula kaum yang sangat anti dan membenci terhadap syariat Islam dan tidak mau merujuk kepadanya saat menyelesaikan persolan.
Maka tepat sekali Syaikh Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh dalam Fathul Majid saat menyebutkan korelasi antara penyebutan ayat ini pada bab yang membicarakan tentang sifat orang munafikin yang tidak mau berhukum kepada hukum Islam;
"Sesungguhnya berhakim (mencari hukum) kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan orang-orang munafik dan itu termasuk kerusakan di muka bumi."
Ayat tersebut, lanjut penulis Fathul Majid, memberi peringatan jangan sampai terpedaya dengan perkataan para ahlul Ahwa (budak hawa nafsu) meskipun mereka menghiasinya dengan pengakuan-pengakuan.
Sementara Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Qaulul Mufidnya menyimpulkan, "Kesesuaian ayat dengan bab sangat jelas, bahwa berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan termasuk sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi."
Hal ini dikuatkan dengan penyebutan dalil pertama dalam kitab Fathul Majid,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna"." (QS. Al-Nisa': 60-62)
. . . berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan termasuk sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi. . . (Syaikh Ibnul Utsaimin)
MUHASABAH ATAS WABAH VIRUS CORONA
Hari ini kepanikan dan ketakutan atas menyebarnya virus corona merebak pada setiap dada.
Hendaknya kita merenung atas isi hadis berikut;
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا
hai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya: Tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabok, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada ada pada generasi sebelumnya. . " (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)
Wabah penyakit ini bisa jadi adalah peringatan yang dzohir dari Allah swt.
Mari kita meningkatkan taqorrub kepada Allah dengan taat dan menjauhi maksiat. Tentu juga waspada, serta pencegahan kita lakukan sebagai ikhtiar untuk terhindar dari keburukan.
Saatnya kondisi ini kita jadikan sebagai momentum untuk muhasabah dan kembali kepada Aturan Allah secara kaffah.
Serang, 15 maret 2020
Irwan Gunawan