Jumat, 20 Oktober 2023

ADAB MENJAGA LISAN KEPADA TEMAN

ADAB MENJAGA LISAN KEPADA TEMAN


Anak-anak sholih yang bapak ibu sayangi, dijaman sekarang ini kita melihat banyak orang yang dengan seenak hati mengejek orang lain. Padahal perbutan tersebut adalah perbuatan tercela dalam Islam. Seorang Muslim dilarang melakukan hal demikian.


Allah SWT berfirman dalam QS. al-Hujurat ayat 11 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Bahkan, perbuatan tersebut dikategorikan sebagai dosa besar.

"Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran." (HR Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)

Selain itu mengejek dan menghina orang lain bisa   membuat seseorang merugi bahkan bangkrut di akhirat.

Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat-sahabatnya, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memliki harta benda."

Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakat, dan pahala hajinya, tetapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil), dan dia memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang dizaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal salehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. Dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka."

Kata Rasulullah SAW selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.” (HR Muslim nomor 6522)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa setiap Muslim yang menghina atau menjelek-jelekkan orang lain, sesungguhnya mereka telah melakukan dosa dan itu dilarang dalam Islam.

Sabtu, 14 Maret 2020

VIRUS CORONA Made In MAKSIAT(Refleksi Mewabahnya Virus Corona)

Dewasa ini banyak terjadi musibah yang melanda negri ini. Baik itu bencana alam ataupun bencana sosial-ekonomi-hukum yang terasa menyesakkan dada.

Banjir, longsor, gempa bumi, tsunami Allah tunjukkan sebagai peringatan. Kesempitan ekonomi, kekacauan sosial juga ketidak pastian hukum juga kita rasakan.
Dan yang terakhir adalah wabah penyakit virus corona yang membuat semua panik ketakutan.
Kenapa semua ini terjadi? apa sebabnya?

MAKSIAT BERBUAH FASAD(KERUSAKAN)

Mungkin Allah sedang mengingatkan kita.
Krn sesungguhnya semua kerusakan ini adalah akibat ulah manusia. Tapi kadang manusia jika diingatkan, mereka menyanggahnya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah: 11-12)

Membuat kerusakan di muka memiliki dua makna: 

Pertama, secara materi seperti menghancurkan rumah, membakar hutan, pembalakan liar, dan semisalnya. 

Kedua, membuat kerusakan secara ma'nawi, yaitu dengan berbuat maksiat atau menciptakan kemaksiatan. 

Yang kedua ini merupakan sebesar-besar membuat kerusakan di muka bumi. (Lihat Al-Qaul al-Mufid, Syaikh Ibnu al-Utsaimin: 2/101)

Makna yang kedua dikuatkan dengan beberapa ayat:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Al-Ruum: 41)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syuura: 30)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)

Makna yang kedua telah disebutkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, "Al-Fasad (kerusakan) adalah kekufuran dan berbuat maksiat." Maka makna larangan berbuat kerusakan di muka bumi adalah jangan kufur kepada Allah dan berbuat maksiat.

Abu al-'Aliyah berkata dalam menafsirkan firman Allah ta'ala: "Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi", yakni: janganlah kalian bermaksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka buat tersebut adalah bermaksiat kepada Allah; karena siapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan berbuat maksiat, maka sungguh ia telah membuat kerusakan di muka bumi; karena baiknya bumi dan langit itu dengan ketaatan." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

BERHUKUM PADA ATURAN SELAIN ATURAN ALLAH SWT ADALAH BENTUK MAKSIAT

Hari ini diakui atau tidak, kita berlepas dari ketaatan pada aturan yang Allah swt turunkan.
Bahkan ada pula kaum yang sangat anti dan membenci terhadap syariat Islam dan tidak mau merujuk kepadanya saat menyelesaikan persolan. 

Maka tepat sekali Syaikh Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh dalam Fathul Majid saat menyebutkan korelasi antara penyebutan ayat ini pada bab yang membicarakan tentang sifat orang munafikin yang tidak mau berhukum kepada hukum Islam;

"Sesungguhnya berhakim (mencari hukum) kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan orang-orang munafik dan itu termasuk kerusakan di muka bumi."

Ayat tersebut, lanjut penulis Fathul Majid, memberi peringatan jangan sampai terpedaya dengan perkataan para ahlul Ahwa (budak hawa nafsu) meskipun mereka menghiasinya dengan pengakuan-pengakuan.

Sementara Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Qaulul Mufidnya menyimpulkan, "Kesesuaian ayat dengan bab sangat jelas, bahwa berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan  termasuk sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi."

Hal ini dikuatkan dengan penyebutan dalil pertama dalam kitab Fathul Majid,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا  وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا  فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna"." (QS. Al-Nisa': 60-62)

. . . berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan  termasuk sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi. . . (Syaikh Ibnul Utsaimin)

MUHASABAH ATAS WABAH VIRUS CORONA

Hari ini kepanikan dan ketakutan atas menyebarnya virus corona merebak pada setiap dada. 

Hendaknya kita merenung atas isi hadis berikut;

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

hai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya: Tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabok, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada ada pada generasi sebelumnya. . " (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)

Wabah penyakit ini bisa jadi adalah peringatan yang dzohir dari Allah swt.
Mari kita meningkatkan taqorrub kepada Allah dengan taat dan menjauhi maksiat. Tentu juga waspada, serta pencegahan kita lakukan sebagai ikhtiar untuk terhindar dari keburukan.

Saatnya kondisi ini kita jadikan sebagai momentum untuk muhasabah dan kembali kepada Aturan Allah secara kaffah.

Serang, 15 maret 2020
Irwan Gunawan

Minggu, 12 Januari 2020

Memetakan Kecerdasan Anak

Orangtua masa kini sudah banyak yang mengetahui bahwa tiap anak memiliki kecerdasan. Terlebih ketika istilah kecerdasan majemuk digaungkan, tiap orangtua menjadi lebih aware terhadap kecerdasan jenis apa saja yang dimiliki oleh sang anak. Namun, anak saya cerdas dalam hal apa ya ? Ini dia cara mengenalinya.
……………………………………….
Ibu muda bernama Riani (29) baru saja menjelajah dunia internet dan menemukan bahwa ada yang namanya kecerdasan majemuk. Lalu ia bingung, dari mana ia tahu anaknya cerdas dalam hal apa dari kesekian banyak jenis kecerdasan ?
Dulu pemahaman kita tentang kecerdasan terbatas pada hasil tes IQ saja. Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kita mulai mempertanyakan pemahaman ini. Contohnya, apakah anak yang pandai menggambar lebih cerdas dibanding anak yang pintar menari atau ahli memainkan pianonya ?
Salah satu ahli yang menyanggah pemahaman tersebut adalah Howard Gardner. Gardner mengembangkan teori multiple intelligenceatau ‘kecerdasan majemuk’. Menurut Gardner, semua orang cerdas. Tiap orang bisa memiliki sekaligus beberapa kecerdasan, namun mungkin mengalami masalah di area kecerdasan lain. Kecerdasan yang disebutkan Gardner adalah :
1.      Linguistik : kemampuan menggunakan bahasa
2.      Logika-matematika : kemampuan memanipulasi angka dan menyelesaikan masalah sesuai logika
3.      Visual-spasial : kemampuan memahami dan memanipulasi bentuk, warna, dan jarak
4.      Musik : kepekaan terhadap nada, irama, atau melodi.
5.      Kinestetik : ketrampilan menggunakan tubuh
6.      Interpersonal : kemampuan berinteraksi dengan orang lain
7.      Intrapersonal : kemampuan memahami diri sendiri
8.      Naturalis : kemampuan mengenali alam, flora dan fauna
Sejauh ini Gardner tidak membuat tes khusus untuk memetakan berbagai kecerdasan di atas. Menurut Gardner, kita dapat mengetahui kecerdasan apa yang paling menonjol atau kurang baik dengan mengamati keseharian anak, ataupun observasi saat memberikan tugas-tugas tertentu. Kalau Anda pernah mengetahui adanya tes apapun yang diklaim bisa mengenali tipe kecerdasan anak, itu bukanlah yang dikembangkan si penemu teori Kecerdasan Majemuk.

Bagaimana cara mengenali kecerdasan yang menonjol pada anak? Beri beberapa jenis kegiatan, coba tarik minatnya pada kegiatan tersebut, dan amati seberapa cepat ia menguasainya. Jika ia cepat terampil, sangat mungkin kecerdasannya menonjol dalam area itu. Namun jika tidak, bukan berarti ia tak cerdas. Mungkin saja ada kegiatan lain dalam area kecerdasan tersebut yang dapat dilakukannya dengan baik. Kegiatan yang bisa dilakukan:
1.      Linguistik
§  Berikan kalimat, minta anak mengulanginya.
§  Berikan kata, minta anak membuat kalimat dari kata tersebut.
§  Minta anak menceritakan pengalamannya hari ini.
2.      Logika-matematika
§  Ajak bermain monopoli, catur, atau domino.
§  Minta anak menemukan pola, baik di lantai mal, di kebun, dan di tempat-tempat lain.
§  Ajak mengelompokkan benda-benda, lalu menghitungnya.
3.      Visual-spasial
§  Buatkan mind-map untuk apa yang dipelajarinya.
§  Gunakan diagram, gambar, grafik, dan berbagai alat bantu visual untuk menerangkan sesuatu.
§  Jelaskan tempat yang akan dikunjungi dengan peta.
4.      Musik
§  Tantang anak membedakan berbagai bunyi-bunyian.
§  Minta anak mengikuti ketukan suatu lagu.
§  Bermainlah tebak lagu.
5.      Kinestetik
§  Bermainlah dengan permainan tradisional di luar ruangan.
§  Berikan tantangan melewati berbagai hambatan seperti berjalan di titian, melompati selokan, atau menaiki tangga.
§  Ajak anak menari atau mengikuti gerakan tertentu.
6.      Interpersonal
§  Ajak bermain dengan teman-teman baru.
§  Lakukan permainan berkelompok seperti galasin atau ular naga.
§  Minta anak mewawancara orang lain untuk mengenali diri mereka.
7.      Intrapersonal
§  Daripada memaksa anak melakukan sesuatu, berikan 2-3 pilihan kegiatan. Biarkan ia memilih yang disukainya.
§  Jika membicarakan sesuatu, tanya pendapatnya, atau tanyakan apa yang ia harapkan jika hal itu terjadi kepadanya.
§  Ajak menulis diari, atau kumpulkan barang-barang kecil yang ia temui hari itu dalam kotak harian.
8.      Naturalis
§  Peliharalah binatang dan ajak mengamati kebiasaannya.
§  Sirami kebun setiap pagi / sore, kenalkan nama-nama tanaman yang ada.
§  Ajak anak mengobservasi alam, juga mencoba meramalkan kondisi cuaca hari itu.
Setelah mengetahui kecerdasan apa yang menonjol pada anak, bukan berarti Anda hanya mengembangkan kecerdasan itu saja lho. Tetaplah mengembangkan kecerdasan lain, agar semakin luas wawasannya dan semakin banyak ketrampilan anak yang berkembang. Kegiatan-kegiatan yang disebutkan di atas juga bisa dilakukan untuk menstimulasi kecerdasan di area tersebut.
Gardner meyakini bahwa kecerdasan majemuk tidak untuk diperbandingkan antara satu orang dengan orang lain. Sebaliknya kita dapat mengenali kelebihan dan kelemahan seorang anak, untuk membantunya mengoptimalkan potensinya.

Artinya, tidak perlu membandingkan antara kecerdasan musik anak yang satu dengan anak yang lain. Namun kita bisa melihat kecerdasan apa yang menonjol selain kecerdasan musik (atau kecerdasan lain). Oleh karena itu, tak perlu membandingkan anak Anda dengan anak teman Anda. Ingat, hargai keunikan tiap anak. (MAJALAH ANAKKU )

Jumat, 20 Oktober 2017

Pembelajaran Tematik SD

Pembelajaran tematik adalah sebuah pembelajaran yang dikemas ke dalam bentuk tema yang melibatkan beberapa mata pelajaran yang disajikan dalam satu wadah yang terpadu. pembelajaran tematik merupakan salah satu dari model-model pembelajaran yang dipadukan/terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang menekankan siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. sehingga dalam kegiatan pembelajaran, siswa secara aktif diarahkan untuk terlibat. Hal inilah yang mendasari terbentuknya pembelajaran tematik dan menghilangkan serta menolak proses latihan/hafalan (driil), dan monoton, sebagai dasar untuk menanamkan dan membentuk pengetahuan dan struktur intelektual pada anak sekolah dasar secara holistik.

ADAB MENJAGA LISAN KEPADA TEMAN

ADAB MENJAGA LISAN KEPADA TEMAN Anak-anak sholih yang bapak ibu sayangi, dijaman sekarang ini kita melihat banyak orang yang dengan seenak h...